BEST CHOICE 4 BETTER FUTURE

One…Two…Three…Action!

Oleh : Yayuk Kurniawati, M.Pd.
Pendidik/Pengajar Bahasa Inggris MAN Kota Batu

 

“Tiga jam terakhir kegiatan pembelajaran, pukul 12.15 sampai dengan pukul 14.15 adalah saat-saat yang kritis bagi guru dan siswa, dimana kejenuhan dan kelelahan belajar sudah mulai menumpuk, stamina  belajarpun sudah mulai menurun. Memutar otak untuk memberikan alternatif  kegiatan pembelajaran yang membangkitkan antusiasme sangat dibutuhkan.” (Bu Guru Muslimah)

Pada suatu hari, Bu Muslimah harus menyampaikan sebuah materi tentang reading (membaca). Tema pembelajaran yang harus disampaikan adalah narrative text (teks berbentuk cerita) tentang legenda rakyat.

Seperti biasa sebelum membahas inti pelajaran, Bu Muslimah menyampaikan tema pembelajaran dan target yang akan dicapai beserta rangkaian kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai target tersebut.

Kegiatan pembelajaran diawali dengan meminta siswa untuk menyebutkan beberapa judul legenda rakyat dari Indonesia. Dengan antusias mereka berebut untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Bu Muslimah.  Kemudian ia menyampaikan bahwa mereka akan belajar memahami sebuah cerita rakyat dari Indonesia yang berjudul “Bawang Merah dan Bawang Putih” secara berpasangan.

Setelah itu Bu Muslimah meminta mereka bekerja secara berpasangan untuk memahami isi teks yang telah dbagikan dengan cara menjawab pertanyaan pada lembar kerja yang telah dsediakan dan merekapun mulai mengerjakannya.

Pada saat mereka mulai bekerja, Bu Muslimahpun mulai mengamati dan berkeliling  kelas. Pada lima belas menit awal ia mengamati para siswa masih bersemangat dalam menjawab pertanyaan yang tersedia pada lembar kerja. Menjelang dua puluh menit, mulailah mereka berguguran, ada yang tertidur ada yang bolak – balik ijin ke belakang dan ada yang asyik berdiskusi tetapi bukan berdiskusi untuk menjawab pertanyaan yang telah disediakan pada lembar kerja tetapi berdiskusi “masalah lain”.  Bu Muslimahpun mulai bertanya-tanya apa yang menyebakan hal tersebut terjadi.

Karena waktu pembelajaran sudah berjalan hampir tiga puluh menit, ia meminta siswa secara berpasangan untuk mempresentasikan hasil jawaban mereka di depan kelas secara bergantian dan mendiskusikan hasilnya dengan kelas. Selama kegiatan tersebut berlangsung, Bu Muslimah mengamati hanya beberapa siswa yang memperhatikan, bahkan sebagian dari mereka gelisah berharap agar bel pulang segera berbunyi. Dan akhirnya belpun  berbunyi dan secara spontan mereka berteriak “Alhamdulillah…akhirnya.” Padahal, pembahasan teks pada hari tersebut belum tuntas.

Dan akhirnya kegiatan pembelajaran pada hari tersebut berakhir dengan membaca do’a.  Setelah itu,  Bu Muslimah langsung menuju ke ruang guru dengan perasaan yang tidak puas dengan kegiatan pembelajaran pada hari tersebut dan ada rasa jengkel pada siswa yang tertidur di kelas tadi. Bu Muslimah merasa  siswa tersebut menyepelekannya. Tetapi kemudian ia mulai mencoba mengingat kembali serangkaian kegiatan yang telah dilakukan pada hari tersebut.

Dan iapun mulai memikirkan karakter sebagian besar siswa di kelas tersebut. Sebagian besar dari mereka tidak suka dengan kegiatan pembelajaran yang monoton seperti membaca dan menjawab pertanyaan kemudian membahasnya. Mereka tidak suka duduk diam, membaca dan mengerjakan soal. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak yang aktif yang tidak bisa diam, jadi ketika mereka diminta untuk melakukan kegiatan tersebut, mereka akan memilih tidur. Ditambah lagi waktu pembelajaran selama tiga jam di akhir pembelajaran (jam 12.15 sampai 14.15). Bu Muslimahpun mencoba memposisikan dirinya menjadi mereka, betapa membosankannya kegiatan membaca di akhir pembelajaran tersebut.

Mulailah ia berkontemplasi untuk memikirkan cara yang tepat dalam mengajar di kelas tersebut. Dan akhirnya ia menemukan satu cara yang tepat yaitu “Bermain Peran” (Role Play). Selama ini ia menggunakan strategi Role Play hanya untuk mengajar speaking saja.  Untuk kali ini ia mencoba menggunakan strategi tersebut untuk meningkatkan kemampuan membaca teks berbentuk cerita (narrative text) pada kelas tersebut. Dan iapun mulai mencari referensi pendukung strategi yang ia pilih, wal hasil ia menemukan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Lia Susanti (2009) tentang peningkatan kemampuan membaca teks recount dan narrative menggunakan strategi role-play dan hasilnya dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa dan juga motivasi siswa dalam proses pembelajaran. Membaca ini membuat ia berkeyakinan kalau strategi ini cocok di gunakan di kelas tersebut.

Mulailah ia merancang kegiatan yang akan ia lakukan di kelas tersebut beserta pedoman penilaiannya .Pada pertemuan selanjutnya ia mengajak mereka untuk bekerja secara berkelompok dan mendiskusikan isi teks yang dibaca dan mempresentasikannya di depan kelas dan ternyata hasilnya jauh berbeda dengan pertemuan sebelumnya, ia tidak menemukan satu siswapun yang tertidur. Dan kemudian ia tawarkan kepada mereka kegiatan belajar pada pertemuan selanjutnya yaitu bermain peran berdasarkan cerita yang telah dibaca. Hal ini disambut baik oleh mereka. ia katakan kepada mereka bahwa konsep yang digunakan adalah konsep OVJ (Opera Van Java), salah satu acara TV yang digemari anak muda.

         Sampailah pada pertemuan berikutnya dengan kegiatan bermain peran. Mulailah Bu Muslimah membagikan kartu bermain peran (role-play card) yang berisi dialog dari cerita pada pertemuan sebelumnya yaitu Bawang Merah dan Bawang Putih. Dan merekapun mulai menentukan peran dari tiap anggotanya seperti yang tercantum pada kartu tersebut dan mulai membaca dialog bersama anggota kelompoknya  dengan tujuan agar tidak salah dalam mengucapkan kalimat dan intonasi dengan tepat.

         Setelah mereka hafal dialog tersebut, merekapun mulai memainkan perannya masing-masing di depan kelas dengan arahan sutradara. Bu Muslimah meminta satu siswa secara sukarela untuk menjadi sutradara dan spontan satu siswa bernama Fatih mengangkat tangan dan siap untuk menjadi sutradara.  Kegiatan belajar pada hari itu benar-benar menyenangkan dan berkesan.

              Para siswa berlatih membaca dialog pada role-play card sebelum bermain peran.

Sang sutradara sedang memberi arahan pada pemain.

       Dengan dasar bahwa pertemuan sebelumnya adalah sebagai contoh dalam bermain peran maka pada pertemuan berikutnya Bu Muslimah memberikan teks cerita legenda rakyat yang berbeda pada tiap kelompok. Kemudian ia meminta tiap kelompok untuk mendiskusikan tentang isi cerita, tokoh, tempat kejadian, alur cerita, kostum, background music dan tempat pementasan. Setelah itu membuat dialog berdasarkan isi cerita. Dan kemudian bermain peran dengan konsep OVJ (Opera Van Java). Sebelum mereka menunjukkan kebolehan mereka dalam bermain peran. Bu Muslimah membuat kesepakatan dengan para siswa tentang penentuan kriteria penilaian.

Dan hasilnyapun di luar dugaan. Mereka benar-benar total dalam melakukannya. Mulai dari properti, kostum, background music dan acting mereka juga luar biasa. Di akhir kegiatan Bu Muslimah melakukan evaluasi dan secara garis besar mereka merasa mendapatkan pengalaman yang luar biasa ,sebagian besar ingin melakukan kegiatan seperti ini lagi dan kesan mereka SENANG dengan bermain peran.

Berikut ini adalah beberapa gambar yang menunjukkan kegiatan bermain peran ala OVJ (Opera Van Java):

         Dari kegiatan tersebut sayapun berkesimpulan bahwa membuat naskah dialog setelah membaca teks narasi akan mendorong siswa tidak hanya sekedar dapat merespon makna tiap kalimat yang terdapat pada teks cerita yang dibaca tetapi juga memberi peluang pada siswa untuk merespon secara aktif dan berimajinasi. Selanjutnya ,memahami isi teks narasi dengan bermain peran akan membuat siswa  terlibat secara aktif sebagai pembaca dalam memahai setting, tokoh cerita dan karakternya beserta alur cerita. Disamping itu juga memberikan pengalaman belajar siswa lebih dari sekedar dapat memahami teks narasi tetapi juga pengalaman yang akan mereka butuhkan dalam kehidupan sehari hari dan mengembangkan bakat mereka, khususnya bagi mereka yang suka dengan dunia akting.

 

SEMOGA BERMANFAAT