Program The Most KUA : Kemenag ajak siswa MAN Kota Batu Lebih Bijak Tentukan Masa Depan

Home | Daftar Berita

Program The Most KUA : Kemenag ajak siswa MAN Kota Batu Lebih Bijak Tentukan Masa Depan


Program The Most KUA : Kemenag ajak siswa MAN Kota Batu Lebih Bijak Tentukan Masa Depan

05 March 2026 | Humas

Kantor Urusan Agama (KUA) Kota Batu mengadakan kegiatan pembinaan kepada siswa-siswi kelas 12 MAN Kota Batu berlangsung sukses dan penuh antusiasme. Acara ini dilaksanakan di mini hall MAN Kota Batu, pada hari Rabu, 4 Maret 2026, dengan dihadiri sekitar 50 siswa dan siswi kelas XII dari perwakilan setiap kelas. 

Kegiatan ini merupakan bagian dari program preventif Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur dalam rangka membekali generasi muda dengan pemahaman matang tentang pernikahan. Tema utama yang diusung adalah "The Most KUA (Move for Sakinah Maslahat). Tema tersebut dipilih mengingat tren pernikahan dini di wilayah Jawa Timur, termasuk Kota Batu, yang meskipun mengalami penurunan signifikan pada tahun-tahun terakhir, tetap menjadi perhatian serius. Data dari Pengadilan Agama dan instansi terkait menunjukkan bahwa pada 2025, kasus dispensasi nikah di bawah usia 19 tahun di Kota Batu hanya mencapai 35 kasus—angka yang jauh lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya—namun upaya pencegahan terus digalakkan agar tren positif ini bertahan.

Kegiatan serentak se-Jawa Timur ini dibuka dengan sambutan hangat dari Kepala Kementerian Agama Jawa Timur, Dr. Akhmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I, via Zoom Meeting, yang menekankan pentingnya persiapan menyeluruh sebelum memasuki jenjang pernikahan. Beliau menyampaikan bahwa pernikahan bukan sekadar ritual, melainkan ibadah besar yang membutuhkan kesiapan holistik—mental, fisik, ekonomi, dan spiritual—agar dapat mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah sebagaimana diamanatkan dalam Al-Qur'an (Ar-Rum: 21).


Narasumber utama dalam sosialisasi ini adalah tim penyuluh dari KUA Kota Batu, Sesi pertama difokuskan pada kesiapan mental sebelum menikah. Pembicara menjelaskan bahwa kematangan emosional menjadi fondasi utama rumah tangga. Remaja usia sekolah sering kali terpengaruh oleh media sosial, tren asmara remaja, atau tekanan lingkungan yang membuat mereka tergesa-gesa memutuskan menikah. Dampak negatif nikah usia dini di antaranya adalah tingginya risiko perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, putus sekolah, hingga stunting pada anak karena kurangnya pengetahuan pola asuh dan gizi.

Selanjutnya, sesi kedua membahas kesiapan fisik dan kesehatan reproduksi. Materi ini sangat interaktif, di mana siswa diajak memahami pentingnya pemeriksaan kesehatan pra-nikah (premarital check-up). Beberapa poin krusial yang disampaikan meliputi:

- Pemeriksaan penyakit menular seperti thalassemia, hepatitis, HIV/AIDS, dan anemia yang dapat diturunkan ke anak.
- Pentingnya menjaga pola hidup sehat, olahraga, dan nutrisi seimbang untuk mempersiapkan kehamilan yang optimal.
- Bahaya kehamilan di usia terlalu muda bagi kesehatan ibu dan bayi, termasuk risiko komplikasi persalinan dan gangguan perkembangan janin.

Siswa-siswi tampak sangat antusias selama sesi diskusi tanya jawab. Beberapa pertanyaan yang muncul antara lain: "Bagaimana cara menolak tekanan teman untuk pacaran serius di usia SMA?" dan "Apakah boleh menikah setelah lulus kuliah meski usia sudah 22 tahun?" Penyuluh menjawab dengan bijak, menekankan bahwa usia ideal menikah adalah ketika seseorang telah mandiri secara ekonomi, pendidikan minimal tamat SMA/sederajat, dan memiliki kesiapan psikologis untuk bertanggung jawab atas pasangan dan keturunan.


Di akhir acara, Kepala KUA Kota Batu menyampaikan apresiasi atas kelancaran acara tersebut. Beliau berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi bekal berharga bagi siswa dalam menjalani kehidupan, tidak hanya soal pernikahan, tetapi juga dalam membangun karakter dan visi masa depan. Sebagai penutup, dibagikan brosur dan modul ringkas tentang bimbingan pra-nikah serta hotline konsultasi KUA bagi siswa yang membutuhkan bimbingan pribadi.

Kegiatan sosialisasi ini menjadi bukti komitmen KUA Kota Batu dan Kemenag Kota Batu dalam mendukung upaya pemerintah daerah dan nasional mengurangi angka nikah usia dini. Dengan pendekatan edukatif dan preventif seperti ini, diharapkan generasi muda Kota Batu, khususnya siswa MAN, dapat menunda pernikahan hingga benar-benar siap, sehingga dapat membangun keluarga yang berkualitas, sehat, dan harmonis. Program serupa direncanakan akan diperluas ke sekolah-sekolah lain di wilayah Kota Batu pada tahun ini.